Sabtu, 13 Januari 2018

JANGAN PATAHKAN SEMANGAT KAMI

Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, ya itulah kata-kata yang kerap kali kita dengar, Kata-kata itu tidaklah salah namun hanya sedikit yang mengamalkannya, selebihnya banyak yang percaya bertakwa kepada Uang yang Maha Kuasa, ya itulah yang Kami saksikan saat ini, Jika kita bercermin Dari system di Negara Kita saat ini, penilaian pada birokrasi pemerintah pada tingkat kementerian khususnya kementerian pertanian saat ini bisa di acungi jempolbegitu banyak kebijakan-kebijakan yang diluncurkan pemerintah baik menterimaupun Presiden Republik Indonesia, sebagai mandat dan amanat dari Rakyat, dalam hal pendanaan bermilyar-milyard bahkan trilyunan untuk membantu petani dalam meningkatkan produktifitas maupun extensifikasi serta intensifikasi,secara pribadi Kami memberikan apresiasi moril sebesar-besarnya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo Beserta staf dan seluruh kru pada tingkat Kementrian Pertanian  namun kegagalan pembangunan pertanian bukan sepenuhnya terletak pada tingkat pusat, namun kesalahan terbesar terletak pada minimnya kualitas sumber daya manusia mulai pada tingkat kecamatan, Kabupaten hingga tingkat Provinsi, sehingga setiap dana yang dikucurkan kepada masyarakat Tani tidak sesuai dengan pa yang diharapkan, tindakan manipulatif, korupsi, bahkan masyarakat tani hanya sekedar dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan golongan dan kelompok oknum tertentu, Permasalahan Penyuluh Pertanian terbesar Saat ini Bukan terletak pada masyarakat tani, namun permasalahan terbesar adalah menghadapi birokrasi korupt dan manipulatif, banyak aturan aturan serta kebijakan  yang diterapkan tidak secara formal, sehingga kebijakan kebijakan tersebut kami anggap sebagai pekerjaan seorang pejabat maupun atasan yang kami nilai bekerja tidak profesional, Banyak aturan aturan yang tidak jelas sumbernya, sehingga aturan-aturan maupun kebijakan-kebijakan tersebut cukup membebani para penyuluh pertanian dilapangan, hal tersebut terletak pada system pelaporan kegiatan penyuluh pertanian yang Kami anggap terlalu di dramatisir, sebagai contoh LAPORAN BUKTI KUNJUNGAN KEGIATAN PENYULUH PERTANIAN, RISALAH KUNJUNGAN PENYULUH PERTANIAN, LAPORAN BIAYA OPERASIONAL PENYULUH PERTANIAN, dll, yang mana ketiga laporan tersebut memiliki unsur serta tujuan yang sama, unsur-unsur yang terkandung dalam laporan itu antara lain : Nomor, nama penyuluh, hari dan tanggal, Nama Kelompok tani, jumlah anggota yang hadir, topik yang dibahas, masalah yang dihadapi, tindakan pemecahan masalah, yang dikunjungi, tandatangan petani dll, yang jadi pertanyaan kami mengapa laporan-laporan tersebut tidak terintegrasi dalam satu buah laporan saja, padahal ketiga laporan tersebut yang kesemuanya wajib dicantumkan tandatangan petani yang dikunjungi
KEDUA; Bantuan dana yang dikucurkan kepada petani tidak sesuai dengan harapan masyarakat tani, sebagai contoh bantuan pemenfaatan pekarangan (KRPL) Tahun 2015 di Desa Saing prupuk senilai 50 juta rupiah yang sampai kepada petani hanya sekitar 5 jutaan saja itupun dalam bentuk barang, spontan keesok harinya ditolak mentah-mentah oleh Ibu-ibu KWT melati dalam rapat mendadak dan langsung dibuat berita acara penolakan pada saat itu juga Di WKPP-Kami, yang kami heran lagi Proses expedisipun dilakukan pada malam hari menjelang dini hari, lantas yang 45 juta lari kemana? sampai saat inipun teka teki silang tersebut tidak kami ketahui jawabannya.
KETIGA; program pajale (Padi Jagung Dan kedele) kisaran tahun 2015-2016 di WKPP Saing Prupuk tidak jelas Rimbanya, saat itu Ketua Gapoktan tiba-tiba ditanya nomor rekening, yang konon program pajale difasilitasi dana dan masuk rekening kelompok, padahal pada saat itu di Desa Kami tidak di beritahukan kalau ada program tersebut, yang kami heran lagi mengapa penyuluhnya dimintai laporan pajale, kami menganggap ada hal yang ganjil terjadi disini, berbagai pertanyaan timbul di benak Kami, mengapa bisa demikian berbelitnya system yang terjadi saat itu.
KEEMPAT; proposal pengajuan paket budidaya jagung dan mesin perontok Didesa binaan Kami juga cukup menguras fikiran, saat itu Ketua kelompok sangat antusias untuk mengusulkan paket budidaya jagung dan pengusulan unit perontok jagung, spontan Kami selaku penyuluh membantu semampu dan semaksimal Kami bisa mengerahkan seluruh kemampuan beserta ketua kelompok tani membuat usulan kedua proposal tersebut, yang mana kami memfasilitasi pembuatan RDK ( Rencana Definitif Kelompok) dan Pembuatan Rencana Devinitif Kebutuhan Kelompok yang kami susun siang dan malam serta Rekening kelompok Tani telah Kami buat, atas anjuran dari Kepala BP3K saat itu secara non formal, setelah selesai Kami setor berkas-berkas tersebut namun apa yang terjadi? Saya dipindah tugaskan tanpa alasan yang jelas Ke WKPP Desa Mengkudu kecamatan batu Engau, Dengan berat hati dan penuh kekecewaan Kami tinggalkan masyarakat Desa Saing Prupuk untuk menempati wilayah baru, spontan tidak mengetahui perkembangan yang terjadi mengenai usulan dimaksud. Dengan seluruh kemampuan dan kondisi yang ada Semampu dan semaksimal Kami bisa untuk beradaptasi dengan wilayah binaan baru, apa hendak dikata kenyataan berbanding terbalik, baru beberapa bulan bertugas, pada tanggal 12/10-2017 Saya terima surat Dari Kepala Dinas Pertanian agar kembali ke Wilayah Desa Saing Prupuk dan bertugas kembali Di desa saing prupuk pada tanggal 03 Oktober Tahun 2017 hingga Sekarang.
Banyak hal Yang tidak Kami Ketahui tentang perkembangan pembangunnan pertanian di Desa saing prupuk selama Kami Tinggalkan, perlahan informasi mengenai tindak lanjut proposal dimaksud kami gali kembali, namun kenyataan pahit yang harus Kami terima, Kelompok Tani "KAKAN MAJU BERSAMA" Yang memiliki usulan sesuai informasi dari ketua Gapoktan REFORMASI saat itu bahwa kelompok Tani yang Lain yang akan menerima bantuan dimaksud, terkejut campur bingung loh kok bisa sih sahut Kami, Pada Hari berikutnya oknum tertentu mengundang Ketua Gapoktan, namun karena sudah ada kecurigaan-kecurigaan terhadap oknum tersebut, akhirnya ketua Gapoktan tersebut mengurungkan niatnya untuk menghadiri undangan, perkembangan selanjutnya Kami menanyakan apakah dana Sudah masuk Rekening sesuai yang dijanjikan? lantas bendaharanya mengatakan belum, selang beberapa minggu kemudian Kami menanyakan perkembangan dan tindak lanjut proposal jagung dimaksud kepada Ketua Kelompok Tani Kakan Maju Bersama, " gimana katanya kok malah kelompok Lain yang dapat bantuan, padahal kelompok lain tersebut tidak pernah mengusulkan pak? lantas ketua Kelompok Tani menjawab; "nggak apa-apa Pak" Kata "nggak apa apa" disini seolah ada apa-apanya, apakah ada sesuatu yang disembunyikan, lantas apa yang disembunyikan? sedangkan sewaktu pengusulan begitu antusiasnya, apakah ada keterikatan dengan oknum tertentu untuk korupsi berjama'ah? Wallahu a'lam bisyawab, semoga hal itu tidak terjadi, Berkecamuk dalam fikiran seorang penyuluh seperti saya cukup bingung dengan apa yang sudah terjadi, Informasi non formal terakhir yang Kami dapatkan bahwa pertama dana Usulan pengajuan paket budidaya Jagung senilai 150 jutaan untuk membeli sarana produksi berupa pupuk dan obat-obatan pertanian tidak masuk kedalam Rekening kelompok Tani yang sudah di buat, Kedua Benih jagung tidak di serahkan langsung Kepada Kelompok Tani, namun sesuai dengan informasi non formal juga Kepala BPP lah yang menganjurkan kepada petani agar masing masing petani mengambil benih Jagung ke kantor BPP, Ketiga; Petani yang mengambil benih jagung sebagian besar bukan dari anggota kelompok Tani Yang mengusulkan padahal sesuai dengan surat pengiriman Barang/ surat Expedisi pengiriman barang tahun sebelumnya bantuan benih Jagung Dimaksud tidak dapat dipindah tangankan, kesimpulannya menyalahi peraturan yang telah ditetapkan pemerintah, Ke-lima; Bantuan Unit perontok Jagung Desa Saing Prupuk Diserahkan satu unit kepada salah satu Anggota Kelompok Tani dan bukan kepada Kelompok Tani dan tanpa sepengetahuan Penyuluh Setempat, Ke-enam; bantuan tersebut waktunya tidak tepat karena sesuai dengan RDK yang di buat bahwa bantuan tersebut akan di aplikasikan pada lahan yang sudah tersedia pada luasan lahan seluas 80 Hektar pada bulan Maret Tahun 2017 dan bukan bulan Oktober atau bulan berikutnya
Jika menganalisa masalah di atas Kesalahannya terletak pada sumber daya manusia Pertanian Itu Sendiri, Bukan dilihat dari jenjang pendidikan namun lebih bertolak pada kualitas moral sumber daya Manusia Itu. bagaimana jika dikaitkan dengan masalah Kegiatan Penyuluhan Sehari-hari? tentu saja sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa Kami pribadi akibat tekanan-tekanan mental seperti tersebut diatas, jika rohani kita sakit, maka jasmanipun akan merasakan imbasnya, Jika Memberi satu janganlah mengharap dua, bersungguh-sungguhlah dalam membangun Masyarakat tani kita agar mereka tidak patah semangat sehingga setiap pendanaan dari pemerintah dapat benar-benar memancing minat petani dalam melakukan budidaya tanaman baik berskala kecil maupun berskalaagribisnis sehingga menjadi sebuah mimpi yang dapat diwujudkan dan bukan mempolitisir mereka, alhasil Petani kita kehilangan kepercayaan kepada pemerintah, Jadilah seorang pejabat yang amanah, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti sumpah yang kalian Ucapkan dulu dan jangan kalian ingkari, Jangan Patahkan semangat Kami, Jangan Lukai Hati Kami, salahkah jika Kami Hanya ingin meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Petani.